Puasa Ramadhan

  • Puasa dalam anggapan syara “Menahan diri atas segala yang membatalkan atas jalan yang ditentukan”

    Dalil Firman Allah Swt : Surah Albaqoroh ayat 183

١٨٣. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
  • Permulaan puasa ramadhan : Difardukan puasa ramadhan pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriah

  • Wajib atas umum manusia berpuasa ramadhan dengan salah satu dari dua perkara:

    1. Sempurna bulan sya’ban 30 hari

      Sabda Nabi SAW : “Puasalah kamu sesudah melihat bulan dan bukalah puasamu sesudah melihat bulan, maka jika bulan itu di tutupi awan atas kamu, maka sempurnakanlah bilangan bulan sya’ban 30 hari”

    2. Dengan melihat oleh seorang yang adil akan hilal (bulan baru)dan dibenarkan oleh Qodi akan pengakuannya

Fadilah Bulan Ramadhan

Nabi Muhammad SAW bersabda “Andaikata mengetahui umatku apa yang ada dibulan ramadhan niscaya mereka harapkan agar setahun itu menjadi bulan ramadhan”

Toat diterima dan semua doa diterima dan dosa diampuni dan surga rindu kepada mereka.

Nabi Muhammad saw bersabda “Barang siapa gembira dengan masuk bulan ramadhan niscaya Allah haramkan jasadnya akan api neraka.”

Allah berfirman dalam hadist Qudsinya “ Puasa itu kepunyaan-Ku dan akulah yang membalasnya.”

Ikhtilaf ulama dalam mentafsirkannya : kata setengah ulama “ amat banyak balasanya tiada dapat ditentukan bagi kadarnya.”

Dan kata ulama bahwasanya puasa itu ibadah yang paling di cintai kepada-Ku.”

Nabi bersabda:” tidurnya orang berpuasa itu ibadah, dan Diamnya itu Tasbih, dan Amalannya itu dilipatgandakan, dan doanya diterima, dan dosanya diampuni.”

Dan Bersabda pula Nabi SAW : “Barang siapa puasa ramadhan disertai iman dan karena Allah SWT, niscaya diampuni baginya akan yang terdahulu dari dosanya.”

Dan Bersabda Pula : “Bagi orang yang berpuasa dua kegembiraan lagi gembira ia dengan keduanya, Pertama kegembiraan ketika berbuka puasa, kedua kegembiraan ketika bertemu dengan tuhannya.”

Dan Bersabda pula : “sungguh bau perubahan mulut orang yang berpuasa itu lebih harum baunya disisi Allah dari bau misik.”

Ikhtilaf ulama dalam mentafsirkan hadist tersebut, kata setengah ulama bahwa bau mulut orang yang berpuasa itu lebih baik pahalanya dari orang pakai minyak misik. (bersambung) Ringkasan Mutiara Ramadhan KH. Abdurrahman Nawi

One response to this post.

  1. Posted by Abuy on Agustus 19, 2009 at 2:14 am

    Assalamu’alaikum Wr Wb
    DIAM…..
    Puasa adalah diam, tentu bukan sembarang diam, bukan takut kebenaran, bukan karena bodoh, tetapi diam adalah bernilai ibadah karena sedang berpuasa. Kalau diamnya saja bernilai ibadah apalagi kalau beraktivitas ibadah dan beramal saleh, membaca Al Quran, menuntut ilmu, sedekah, mencari nafkah yang halal sampai berdakwah. Maka sungguh pantaslah mereka berpuasa mendapat nilai berlipat ganda dari Allah SWT. Subhanallah.

    Diamnya orang mukmin adalah tafakur dan tadabbur. Dari mana aku? Di mana aku? Kemana aku akhirnya? Rotasi dan evolusi alam ini dalam bilion-bilion galaksi yang mencengangkan para kosmolog, renungan inilah membuat orang beriman itu sujud tersungkur diharibaan Allah SWT.

    Allah SWT berfirman dalam QS Qaf ayat 18, “Tidaklah berkata satu kata kecuali dicatat oleh Malaikat Roqib dan Atid.”

    Rasulullah SAW pun mengingatkan, barang siapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhirat hendaklah berkata baik, benar, jujur, sopan, santun, mulia kalau tidak maka diam.”

    Karena itu aktivitas lisan orang mukmin hanya dua, kalau tidak bisa bicara baik maka diam, tetapi kalau bisa bicara baik itu lebih baik dari pada diam.

    Sungguh tepat sikap Siti Maryam menghadapi fitnah dengan diam, ”Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa – berdiam untuk Tuhan Yang Maha Kuasa maka aku tidak berbicara dengan siapa pun pada hari ini.”

    Ada waktu untuk bicara, ada tempatnya untuk bicara bahkan kadang tidak hanya untuk menyampaikan tetapi yang lebih penting adalah sampai, karena itu ayat-ayat Al-Quran menggambarkan ucapan orang yang takut kepada Allah SWT.

    Qaulan sadida atau ucapan tegas (QS 33:70), qaulan tsaqila atau ucapan berbobot (QS 73:5), qaulan layyina atau ucapan lembut (QS 20:44), qaulan ma’rufa atau ucapan baik dan sopan (QS 4:5). Sungguh betapa banyak orang yang diam-diam itu tatkala berbicara mengagumkan karena ia berdiam, mendengar, merenung, baru berbicara, Subhanallah.

    Rasulullah SAW tidak menyukai orang yang banyak bicara dan pandai beretorika (tsar tsarah), besarlah kebencian Allah kepada orang yang berbicara tetapi tidak mengamalkan. Orang mukmin itu apa yang di hatinya itulah yang diucapkan dan apa yang diucapkan itulah yang diamalkan komitmen dan konsisten. Ingat hal yang membatalkan pahala puasa adalah dusta dan ghibah, karena itu belajarlah diam di dalam puasa ini.

    Wassalamu’alaikum Wr Wb

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.